Between False Memory, Hypnosis, & Meditation

January 19, 2011 § Leave a comment

Tepat sebelum tidur tadi malam, saya sempat kaget oleh sebuah postingan note di facebook yang membahas tentang 2 hal: False Memory Syndrome, & Hypnosis, dimana sebagai praktisi hipnosis sekaligus praktisi meditasi, secara pribadi saya berpendapat informasi tentang hipnosis dalam artikel ini sangat one sided thinking dan skeptic, sehingga cenderung memberkan informasi yang sangat jauh dari pengertian hypnosis yang sebenarnya. That’s why saya tergerak untuk memberikan sedikit koreksi mengenai artikel tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat pada penulisnya. 

False memory syndrome (FMS) adalah istilah yang di berikan oleh Peter J. Freyd seorang profesor di Universitas Pennsylvania, Freyd dan istrinya Pamela mendirikan False Memory Syndrome Foundation pada tahun 1992, setelah Freyd dituduh melakukan pelecehan seksual oleh putrinya Jennifer Freyd, Freyd menyangkal tuduhan tersebut. Bermula dari sebuah kasus pada tahun 1990.. Jennifer Freyd menuduh ayahnya telah melakukan pelecehan seksual ketika Jennifer masih berusia remaja, ingatan pelecahan seksual itu muncul setelah Jennifer Freyd menjalani serangkaian theraphy oleh seorang terapis yang tidak terkait sama sekali dengan permasalahan pelecehan seksual.

Berdasarkan situasi tersebut Freyd kemudian mengadakan penelitian lebih lanjut tentang memory dan kemudian mendirikan FMSF (False Memory Sydrome Foundation) yang menitik beratkan pada penelitian False Memori adalah sebuah ingatan yang tercipta dari penciptaan kenangan palsu , persepsi palsu atau keyakinan palsu tentang diri atau lingkungan, penciptaan ingatan ini menimbulkan kebingungan sehingga seseorang tidak mampu lagi membedakan apakah ingatan itu benar atau salah, benar-benar terjadi atau tidak pernah terjadi.

Informasi diatas merupakan potongan yang saya ambil langsung dari artikel salah satu brother saya yang saya hormati yang juga merupakan praktisi meditasi. Memang benar, dalam proses hipnoterapi, False Memory bisa saja terjadi apabila tidak dilakukan dengan hati-hati. Untuk poin ini saya setuju, karena pada kedalaman tertentu pikiran memang tidak dapat membedakan antara kejadian nyata yang memang pernah terjadi maupun yang sekedar imajinasi belaka, sehingga ketika dilakukan regresi (membawa klien ke situasi saat pertama kali mengalami kejadian traumatik dalam pikiran internalnya), pikiran bawah sadar klien bisa saja mengambil informasi yang memang merupakan kejadian nyata ataupun hanya yang pernah menjadi imajinasinya.

Yang saya kurang setuju adalah paragraf sesudahnya, yang menurut saya sangat one sided thinking. Pada artikel tersebut disebutkan:

Seperti yang sudah di jelaskan diatas FMS adalah sebuah istilah yang diciptkan dari suatu ingatan atau kenangan yang tidak pernah terjadi , kenangan-kenangan ini baru muncul setelah seseorang menjalani serangkaian therapy hypnosis . Kenangan ini muncul bisa dikarenakan Implant Memory (penanaman ingatan) yang di lakukan oleh teraphis atau bisa karena dampak dari penekanan suatu ingatan di dalam sesi theraphy hypnosis untuk tujuan tertentu. Theraphy Hypnosis tidak melibatkan kesadaran, semua di lakukan murni berdasarkan sugesti terapis, semisal seseorang ingin berhenti merokok, sebenarnya bukan keinginanannya yang dibuang, melainkan ingatan tentang rokok itu yang ditekan, sehingga keinginan untuk merokok terlupkan, namun semua itu terjadi tanpa kesadaran. Berbeda dengan orang yang ingin berhenti merokok dan melakukannya secara sadar dengan mensugesti diri sendiri melalui dampak dari rokok, semisal datang mengunjungi rumah sakit jantung dan melihat gambar-gambar jantung dan paru-paru yang rusak akibat rokok. Membaca informasi mengenai dampak dari rokok untuk kesehatan, aktifitas tersebut juga bagian dalam hal memanipulasi pikiran namun dilakukan dengan kesadaran dan orang yang melakukan tersebut masih dapat melakukan analisa terhadap lalu lintas informasi yang masuk kedalam otak. Berbeda dengan orang yang berada dalam kondisi terhipnosis dalam sebuah sesi hypnosis dimana orang tersebut tidak memiliki kekuatan untuk membendung atau menyangkal informasi-informasi yang masuk kedalam otaknya.

Mengapa saya katakan one sided thinking?

Karena dalam kasus tersebut , yang menjadi permasalahan utama adalah insepsi / penambahan informasi baru yang bisa terjadi atas side effect berbagai teknik, dan dalam artikel sahabat saya tersebut lebih memberikan penekanan pada therapy hypnosis. Dalam artikel ini, saya sangat setuju dengan kemungkinan terjadinya False Memory Syndrom, namun tidak setuju dengan sudut pandang hypnosis yang dipaparkan. False Memory Syondrom sendiri telah menjadi isu yang telah dibahas oleh hipnoterapis yang serius mendalami proses terapi sejak jaman Ericksonian. Untuk mengetahui cerita lengkap kasus ini silahkan cari film dengan judul ‘Indictment’ yang menceritakan tentang False Memory Syndrom.

Pertama harus dibongkar terlebih dahulu pengertian mengenai hypnosis. Pemahaman orang mengenai hypnosis sangat tergantung dari pengertian mana yang ia pilih untuk memasuki hypnosis. Berikut akan saya jabarkan beberapa pengertian yang umum tersebar beserta kelemahannya:

1. Hypnosis = tidur, klenik, suatu bentuk pengendalian pikiran dll.. guys! Apabila benar anda masih berpikir semacam ini maupun sejenisnya maka JELAS anda tidak pernah baca buku dan berusaha mencari tahu tentang hypnosis, anda hanya kebanyakan nonton TV, terutama realiti show klenik, maupun guyonan uya kuya yang totally fake!

2. Hypnosis adalah memasuki kondisi alpha : guys! Kalau anda juga masih berpikir seperti ini maka anda sangat sangat perlu meng-update literatur anda, karena pengertian ini benar-benar dangkal, tidak menjelaskan, dan hanya eksis di kalangan praktisi hipnosis Indonesia hingga tahun 2004! So you’re definitely LAME & HAVE TO CHANGE IT NOW!!

3. Hypnosis adalah penerobosan faktor kritis, dimana sugesti yang diberikan digunakan untuk membypass pikiran sadar seseorang, sehingga informasi/program yang masuk akan langsung diterima pikiran bawah sadar dan dijalankan. Guys, apabila anda masih berpegang teguh pada pengertian ini, maka jelas anda termasuk praktisi kemarin sore yang baru saja beli buku maupun mengikuti pelatihan hypnosis.

Dua pengertian pertama adalah pengertian umum dimana hypnosis terlihat seperti suatu bentuk pengendalian pikiran. Sedangkan pengertian ke-3 membuat orang berpikir terdapat “GAP” yang sangat jauh antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Misalnya: dengan pengertian hypnosis = tidur maka orang berpikir terdapat “ketidaksadaran” di dalamnya, ketika orang berpikir prosesnya adalah “tidak sadar” maka rantai selanjutnya adalah orang berpikir bahwa hypnosis adalah suatu bentuk pengendalian pikiran.

Untuk pengertian ke-3 sebenarnya merupakan pengertian yang umum diberikan dalam kurikulum pelatihan beberapa lembaga hypnosis. Dimana pendekatan ini memang diperlukan bagi pemula untuk mempermudah proses praktek hypnosis. Namun pengertian ini pun mempunyai kelemahan, yaitu ketika kita mengatakan bahwa terjadi proses “penerobosan”, maka tentu ada keadaan sebelum diterobos dan sesudah diterobos. Inilah yang membuat pikiran sadar dan pikiran bawah sadar terlihat memiliki “jarak” yang begitu jauh, PADAHAL sebenarnya pikiran bawah sadar pada dasarnya masih merupakan bagian dari pikiran sadar, hanya saja memang jarang digunakan karena dorongan lymbic dan reaksi spontan tubuh mengambil peran lebih dominan dalam keadaan jaga, sehingga seseorang mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadarnya.

Karena itu apabila anda sedikit rajin mencari literatur, sekali lagi, LITERATUR, bukan buku sampah yang banyak beredar di Gramedia yang lebih berbau bisnis daripada edukasi, yang hanya menunjukkan hypnosis sebagai kekuatan dewa yang turun dari langit, anda akan menemukan perspektif lain tentang hypnosis yang justru sangat jauh berbeda dari apa yang sudah anda ketahui selama ini!

Sekarang saatnya saya bagikan beberapa prinsip tentang therapy hypnosis yang BENAR. Ada satu prinsip utama yang harus anda pegang sebagai akar dari segala pengetahuan anda tentang hypnosis. Apabila melenceng dari prinsip yang satu ini, maka sudah jelas informasi yang anda dapat murni dari sumber yang memegang otoritas atas diri anda tanpa mempedulikan kebenaran yang sesungguhnya..

PRINCIPAL KEY: “All Hypnosis is Self-Hypnosis”

Anda mungkin sudah sering mendapatkan informasi di buku-buku yang sudah anda baca, BUT trust me guys, yang saya maksud di sini sangat berbeda dari apa yang anda pikirkan saat ini. Saya berpegang pada pengertian Milton H. Erickson yang merupakan Bapak Hypnotherapy dunia, yang berpendapat bahwa:

“Hypnosis adalah suatu pergeseran kesadaran dimana klien mendapatkan kontrol kesadaran lebih atas pikiran bawah sadarnya yang dalam keadaan normal, klien tidak memiliki kontrol tersebut”

berikut adalah potongan dari wikipedia mengenai pandangan Milton H. Erickson mengenai kondisi hipnosis & sub-conscious mind:

“Erickson believed that the unconscious mind was always listening, and that, whether or not the patient was in trance, suggestions could be made which would have a hypnotic influence, as long as those suggestions found some resonance at the unconscious level. The patient can be aware of this, or can be completely oblivious that something is happening. Erickson would see if the patient would respond to one or another kind of indirectsuggestion, and allow the unconscious mind to actively participate in the therapeutic process. In this way, what seemed like a normal conversation might induce a hypnotic trance, or a therapeutic change in the subject. It should be noted that “[Erickson’s] conception of the unconscious is definitely not the one held by Freud” (klik di sini untuk baca lengkap dari sumbernya)

Apabila berangkat dari pengertian ini, maka jelas Hypnotherapist yang baik justru seharusnya  memberikan kontrol lebih atas diri klien. Therapist juga tidak hanya bekerja pada satu level kesadaran, namun pada multilayer consciousness, pada beberapa level kesadaran secara bersamaan. Karena pikiran memang tidak pernah statis pada satu level kesadaran saja, namun bekerja bersamaan dengan kadar level kesadaran yang berbeda-beda. Jadi adalah jelas salah bahwa hypnosis hanya melibatkan pikiran bawah sadar, tanpa melibatkan pikiran sadar sama sekali.. karena hal ini tidak mungkin dilakukan.

Pertama, kenyataannya Hypnotherapy sendiri dilakukan dalam keadaan sesadar-sadarnya. Klien masih bisa menolak apa yang disugestikan terapis apabila ia tidak menginginkannya. Dan sebenarnya, Hypnosis adalah proses yang sangat alami terjadi setiap hari. Selama anda masih bisa berkomunikasi dengan baik, anda pasti pernah menghipnotis maupun terhipnotis minimal 3 jam dalam sehari. Sama seperti ketika anda menangis ketika melihat film. Sudah tahu film itu tidak benar benar tetap saja bisa merasa sedih, takut, senang, horor. Dan apabila anda perhatikan, semua itu murni keputusan anda. Ketika anda memutuskan untuk tidak menangis anda akan cenderung tidak terasosiasi (proses turut mengalami secara nyata) oleh film tersebut.

Kedua, mengenai hypnotherapy untuk merokok dimana tadi sempat disebutkan bahwa ingatan tentang rokok itu hanya ditekan. Ini sangat salah besar! Penekanan tersebut hanya dilakukan oleh para hipnotis yang HANYA mempelajari direct suggestion alias mereka hanya belajar hipnosis, BUKAN belajar hipnoterapi. Apabila anda bertanya pada hipnoterapis manapun, mereka akan menjelaskan bahwa direct suggestion hanya dilakukan oleh para fundamental hipnoterapis dan efeknya JELAS tidak permanen. Untuk prosedur hipnoterapi sendiri, yang dilakukan adalah meliputi: menemukan akar masalah, pembaharuan realitas internal yang bersifat client based source, berdamai dengan diri sendiri, perumusan outcome, menemukan value yang lebih tinggi untuk diletakkan diatas value merokok untuk self motivation, anchoring, timeline, dan homework untuk melatih level behavior. Selain itu Hipnoterapis yang baik pada dasarnya tahu persis bahwa hipnoterapi tidak bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan unsur terapi yang bersifat behavioral. That’s why, terkadang diperlukan beberapa sesi yang sebenarnya bertujuan untuk memunculkan distorsi (menemukan bukti yang mendukung pemahaman baru yang ia terima selama proses terapi). Dalam hal ini hipnoterapi adalah short term therapy. Sehingga sesi terapi yang terlampau lama jelas adalah eksploitasi duit & penyalahgunaan otoritas, yang mana hal ini juga bisa terjadi di mana saja, mulai dari yang positif seperti hipnoterapi, proses konseling yang sifatnya melenceng dr prinsip client based source, motivation group, kotbah lembaga keagamaan, grup meditasi, bahkan hingga yang ekstrim seperti cuci otak yang dilakukan para teroris

Terapis juga harus mengetahui perbedaan “guiding” & “leading”. Leading adalah membimbing klien ke arah yang ditetapkan oleh terapis, sedangkan Guiding berarti membimbing klien ke dalam keadaan dimana sudah disepakati sebelumnya baik oleh klien maupun terapis. Karena dalam hipnoterapi proses yang terjadi adalah guiding, maka sang hipnoterapis juga harus benar-benar mengerti pola bahasa apa dalam sugesti yang menyebabkan terjadinya proses guiding ataupun leading, sehingga proses leading tidak terjadi. Untuk menghindari False Memory Syndrome (FMS), proses terapi disarankan terjadi secara disasosiatif, dimana ketika klien mengalami kembali proses traumatik, kesadaran klien tidak ikut terlibat dengan emosi di masa lalu (asosiatif).

Ketiga, tentang kesadaran itu sendiri. Mengetahui tentang organ dan bahaya merokok hanyalah sebagian kecil dari kesadaran, hal yang terjadi setelah itu adalah seseorang berhenti merokok karena driven by fear, padahal seharusnya setiap orang JUGA harus merumuskan value yang lebih tinggi dari value yang ia pegang dalam hal merokok, sehingga ia dapat merumuskan outcomenya sendiri, sehingga ia tidak hanya menghindari merokok, namun mendapat benefit dari tidak merokok, sehingga bisa menghandle pelarian suatu saat apabila ia mengalami stress kembali. Dalam hipnoterapi ini disebut dengan pendekatan toward-away yaitu memunculkan value yang membuat klien dengan sadar mengetahui mengapa ia harus menghindari merokok (away-menjauhi) & sekaligus menemukan value apa yang lebih berharga dari dorongan merokok oleh lymbic sehingga ia lebih memilih untuk mendekati value baru ini (toward – mendekati)

Yang perlu diingat adalah Hypnotherapy merupakan Client Based Therapy, jadi sumber yang digunakan dalam terapy adalah murni dari klien, terapis tidak diijinkan menambahkan identitas baru pada diri klien. Sehingga segala bentuk insepsi yang terjadi adalah murni kesalahan terapis, malpraktek! Bukan tentang hypnosis itu sendiri. Sama seperti dokter yang malpraktek, ataupun Meditasi yang bisa disalahgunakan dan disalahartikan sebagai hanya duduk diam, untuk kesehatan, maupun kekebalan tubuh (kesaktian), yang mana sebenarnya meditasi lebih mengarah pada peningkatan kesadaran. Masalah utama yang HARUS diperhatikan adalah baik praktisi dari kubu manapun harus benar-benar mempelajari sebelum membicarakan kubu lainnya, tidak hanya mencari informasi yang dibutuhkan, supaya perselisihan antar kubu yang tidak diinginkan tidak terjadi di masa depan.

Mulai saat ini kita tidak boleh lagi skeptis tentang ilmu lain, karena selama anda skeptis, informasi yang anda dapatkan sebenarnya hanya menunjukkan sesuatu yang sebenarnya INGIN ANDA LIHAT. Ingatlah selalu bahwa pikiran bisa menipu, pikiran cenderung memperlihatkan pada kita apa yang ingin kita lihat. Karena itulah ada istilah “pikiran selalu memberikan apa yang kita minta” yang bahkan dalam The Secret “You wish is my command!” 

Kenyataannya baik hypnosis maupun apa yang disebut pemberdayaan diri baru dapat dinilai keberhasilannya dalam level manifestasi. Banyak yang telah menjalani proses hipnoterapi & meditasi namun tidak mengandalkan kesadaran. Hal ini bisa terjadi karena praktisinya yang terlalu memberikan ekspektasi yang tidak realistis dalam bahasa marketingnya. Karena praktisi yang berpengalaman tahu persis bahwa baik hipnoterapi maupun meditasi bukanlah hal yang instan. Sekali lagi, baik hipnoterapi & meditasi sendiri, keduanya dalam praktek kehidupan nyata lebih banyak ditemui tanpa menitikberatkan kesadaran. Namun bukan berarti keduanya tidak melibatkan kesadaran, karena kesadaran justru merupakan poin penting dalam yang harus ditambahkan dalam praktek hipnosis maupun meditasi.

Silahkan mendefinisikan ulang hipnosis maupun meditasi sesuai tujuan hidup anda, namun hindari saling serang menyerang, karena pada hakikatnya kita semua sama-sama melakukan perjalanan 🙂

Perbanyak sudut pandang anda tentang meditasi maupun hipnosis.. Atau silahkan mendaftar Codebreaking Hypnosis Private Class selanjutnya untuk memahami hypnosis lebih dalam 

Experience the truly hypnosis, enjoy your deeply meditation 😉

Your enigmatweet brother

@leithkeshava (follow please..lol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Between False Memory, Hypnosis, & Meditation at Leith Keshava's Trancevolution!.

meta

%d bloggers like this: