The Hidden Runaway

August 16, 2010 § 8 Comments

“Hey”. Suara seorang wanita membuyarkan lamunan indahku saat menikmati  secangkir espresso di sebuah coffe shop bersamaan dengan rintik hujan yang akhir-akhir ini jarang muncul di kota yang sudah dicap super hot, Surabaya. Saya pun menoleh dan mendatangi  wanita yang duduk sendirian di seberang saya dan membalas sapaannya “Apa manggil-manggil!?” ..becanda..hehe


Obrolan santai pun mengikuti sapaan,dan membuat saya seolah jadi pemeran utama Prince of Persia dan seenaknya memainkan waktu.. sampai suatu kalimat yang sedikit mengagetkan saya tiba-tiba muncul di tengan curhatan: “Peoples are bullshit!”. Saya memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan kembali menikmati pahitnya original espresso sambil memaklumi kecilnya ukuran cangkir espresso mengingat harganya yang memang sangat terjangkau. 🙂

Asap rokok wanita ini mulai menggangguku setelah 15 menit berada di dekatnya. Meski saya ingin meminta dia untuk mematikan rokoknya, saya tidak melakukannya karena ternyata saya baru sadar kalau sedang berada di smoking area..hahaha.. untungnya wanita ini sadar kalau saya terganggu dan bertanya:

Ce: “menurutmu perokok itu nggak baik yah?”

Me: “tergantung”

Ce: “maksudnya?”

Me: “bunuh diri”

Ce : “he!?”

Me: “hahaha..kalau dilihat dari behavior mungkin  iya, tetapi jika dilihat dari runaway source, nggak”

Ce: “Hah? Runaway source?”

Me: hahaha..Cuma istilahku sendiri aja sih.. biar keren! :p

Ce: hahaha.. lucu juga kamu

Me: I know J

Tiba-tiba saya teringat salah satu perkataan dari brother terbaik saya Kei Savourie ketika saya mempelajari Deep Psychobreaking yang malah sering saya pakai untuk terap i=D . He said:  “everyone is searching for a meaning”

Kebanyakan orang awam mengecap behavior tanpa mempedulikan runaway source. Ketika setiap orang mulai mencari arti untuk hidupnya, entah dia menyebutnya “mencari jati diri”, “aktualisasi diri”, “mendalami spiritual” atau apapun istilahnya, seseorang biasanya melihat kehidupan normal sebagai sesuatu yang hampa, dan ketika kesadaran di dalam dirinya mulai bertanya “what’s next?”, mereka mulai mencari jawaban di luar diri, dan biasanya bagi yang masih bermasalah dengan ego akan mencoba keluar dari tekanan sosial atau berusaha mendapatkan validasi dari social circle-nya. Ini yang saya sebut pelarian.

Pelarian tiap orang berbeda-beda. Mulai dari yang sederhana, seperti lebih rajin beribadah & kegiatan keagamaan, makan berlebihan, merokok, minuman keras sampai yang dianggap ekstrim di masyarakat kita seperti pergaulan bebas, atau narkoba. Yup anda tidak salah dengar: termasuk lebih rajin beribadah & kegiatan keagamaan!

Dengan melakukan kegiatan-kegiatan, mereka berharap dapat mengisi kekosongan dalam diri mereka. Dan ketika melakukan hal-hal ini mereka memang sempat mendapatkannya. Namun yang mereka dapatkan sebenarnya hanyalah Pseudo-effect yang sifatnya temporer, mereka hanya merasa nyaman sesaat karena efek pengalihan pikiran dari rutinitas yang sudah tidak memberikan kepuasan.

Pelarian seperti merokok, minum, dsb. merupakan contoh pelarian yang mudah terlihat. Namun bagaimana dengan mereka yang pelarian-nya ke arah yang kelihatannya positif? Sekilas tidak bisa dibedakan antara mereka yang pelarian dengan ,mereka yang asli, namun anda pasti langsung tahu ketika anda mengenal dengan benar kebribadian orang tersebut J

Dengan pelarian yang terlihat positif semacam ini, mereka sebenarnya sedang memperparah keadaan. Dengan menjadi seolah-olah positif, mereka mendapatkan apa yang dalam dunia hipnoterapi disebut secondary gain (keuntungan tersembunyi)  yaitu mendapatkan validasi & menjadi lebih dihormati di lingkungan sosialnya. Padahal lama kelamaan dalam dirinya akan menyadari bahwa semua ini adalah palsu.. fake! Bullshit! Makanya dari sini muncul istilah “Iman tidak boleh goyah oleh godaan”. Ini membuktikan bahwa lymbic dalam otak seseorang masih sangat mempengaruhi orang tersebut. Lymbic mengatur insting-insting hewani dalam diri manusia. Padahal jika kita pikirkan lebih jernih: “apabila iman kuat mengapa harus takut godaan?”. Iman dalam diri manusia diposisikan sebagai sesuatu yang rapuh, lemah sehingga malah imanlah yang harus dijaga, padahal harusnya iman yang menjaga kita. Kita dijaga oleh sesuatu yang lebih lemah dari kita. Aneh? J

Celakanya hampir semua orang mengalami-nya, terlebih lagi wanita karena begitu banyak-nya aturan yang mengharuskan wanita harus begini, harus begitu. Terlalu banyak aturan di lingkungan sosial kita, entah itu adat atau agama  yang sebenarnya malah tidak memanusiakan manusia.

Setidaknya mereka yang pelariannya negatif sebenarnya malah lebih jujur pada diri sendiri sehingga memudahkan proses self-healing mereka, tergantung dari usaha mereka selanjutnya. Sedangkan mereka yang melakukan pelarian terselubung ini malah hanya akan berkutat pada pemuasan ego rendahan mereka dan mempersulit proses self healing mereka sendiri.

Kebanyakan orang awam biasanya dengan begitu mudahnya mengecap seseorang baik atau tidak baik. They are sceptic! Mereka hanya menilai pelarian tanpa memperhatikan problem source-nya, kemudian memaksa orang untuk “bertobat”.

Berarti pelarian negatif lebih baik dari pelarian seperti ke arah positif seperti keagamaan?

Saya tidak membahas pelarian mana yang lebih baik. Sumbernya, Rusaknya, Bobroknya bisa saja sama, tapi perlariannya bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, bahkan bisa terlihat positif. Namun apabila kita berbicara di level kesadaran yang lebih tinggi: pelarian tetaplah pelarian. Apapun pelariannya, kita semua mengalaminya dengan cara yang berbeda. Jujur pada diri sendiri dan menyadari pelarian adalah tahap awal penyembuhan.

There is one thing you should remember in your deepest heart: You can’t runaway from yourself, because you always know it! Face it, You are stuck! That’s the 1st step to heal yourself J

Untuk teknik spesifiknya ikuti – Instant Self Tranceformation (IST) workshop 😉

Me: Jadi? Apakah ukuran baik dan buruk seseorang di matamu berbubah sekarang? 🙂

Ce: hmmm….sedikit shock juga denger penjelasanmu, namamu siapa sih?

Dan saya baru sadar kita belum saling berkenalan, and I simply said:

“My name is Leith Keshava”

And once again close number 🙂

Advertisements

§ 8 Responses to The Hidden Runaway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Hidden Runaway at Leith Keshava's Trancevolution!.

meta

%d bloggers like this: